Berawal dari Beling Bekas, Warga Kanigoro Sulap Pecahan Kaca Jadi Miniatur Candi Penataran
Kerajinan gantungan kunci miniatur Candi Penataran dari beling bekas karya warga Kanigoro menarik perhatian. Berawal dari limbah kaca, produk ini kini menjadi suvenir khas Blitar bernilai ekonomi.
Poin Penting
- A. Redam Sunalis, warga Desa Jatinom, Kecamatan Kanigoro, mengolah pecahan kaca menjadi gantungan kunci miniatur Candi Penataran sebagai produk UMKM kreatif.
- Proses pembuatan dilakukan secara manual menggunakan butiran beling yang dicampur resin sehingga menghasilkan suvenir bening dan mengilap.
- Gantungan kunci dijual Rp20 ribu per buah dan diharapkan menjadi oleh-oleh khas yang turut memperkenalkan Candi Penataran sebagai destinasi wisata sejarah di Kabupaten Blitar.
Kabar Blitar – Peluang usaha bisa datang dari mana saja, termasuk dari tumpukan pecahan kaca yang selama ini dianggap tidak bernilai.
Hal itulah yang dibuktikan A. Redam Sunalis, warga Desa Jatinom, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, yang berhasil mengubah beling bekas menjadi gantungan kunci berbentuk miniatur Candi Penataran.
Ide tersebut muncul secara tidak sengaja ketika Sunalis berkunjung ke kawasan wisata Candi Penataran.
Saat berkeliling di kios-kios UMKM, ia melihat gantungan kunci berbahan kayu berbentuk candi yang kemudian memunculkan inspirasi untuk membuat produk serupa dengan bahan yang berbeda.
“Saya lihat ada gantungan kunci dari kayu bentuk candi. Dari situ kepikiran bagaimana kalau bikin miniatur candi tapi dari bahan lain,” tuturnya.
Sepulang dari lokasi wisata sejarah tersebut, pria berusia 41 tahun itu melihat tumpukan pecahan kaca di rumahnya.
Beling yang semula dianggap limbah itu kemudian dicoba diolah menjadi bahan baku kerajinan.
Proses pembuatannya dimulai dengan menghancurkan pecahan kaca menggunakan lumpang hingga berubah menjadi butiran halus menyerupai pasir kaca.
Setelah itu, Sunalis membuat cetakan miniatur Candi Penataran secara manual menggunakan silikon akuarium.
“Saya mengukir dulu pakai semen kecil-kecil, lalu dibuat cetakan sendiri,” katanya.
Perjalanannya mengembangkan produk tidak selalu berjalan mulus. Beberapa kali percobaan menghasilkan bentuk yang dinilai kurang menarik.
Hingga akhirnya, seorang temannya memberikan saran agar butiran kaca dicampur dengan resin. Saran tersebut terbukti berhasil meningkatkan kualitas produknya.
Campuran resin membuat gantungan kunci terlihat lebih bening, mengilap, sekaligus lebih mudah dibentuk.
“Setelah dicampur resin, ternyata hasilnya lebih bagus dan berkilau. Dan juga lebih mudah dibuat bentuk,” tambahnya.
Kini, gantungan kunci miniatur Candi Penataran buatannya dijual seharga Rp20 ribu per buah dengan ukuran sekitar 4 x 5 sentimeter.
Bagi Sunalis, kerajinan tersebut bukan sekadar produk kreatif atau sumber penghasilan tambahan.
Ia berharap karya itu juga dapat menjadi suvenir khas yang memperkenalkan salah satu situs bersejarah di Kabupaten Blitar kepada masyarakat maupun wisatawan.
“Ya, bisa tambah oleh-oleh khas Blitar, lewat pengenalan tempat sejarah yang ada di Blitar,” ungkapnya.
Komentar 0
Masuk untuk ikut berkomentar.