Jumlah Anak Tidak Sekolah di Blitar Turun Drastis, Kini Tersisa 27 Orang
Pemerintah Kota Blitar berhasil tekan angka anak tidak sekolah (ATS) dari 1.005 menjadi 27 orang melalui proses verval dan intervensi pendidikan.
Poin Penting
- ATS turun drastis dari 1.005 menjadi 27 orang
- Sebagian masuk PKBM untuk pendidikan kesetaraan
- Faktor ekonomi dan disabilitas jadi kendala utama
Kabar Blitar – Pemerintah Kota Blitar menjadikan penanganan anak tidak sekolah (ATS) sebagai salah satu fokus evaluasi di sektor pendidikan.
Hasil terbaru menunjukkan capaian yang cukup signifikan setelah dilakukan verifikasi dan validasi (verval) secara menyeluruh.
Berdasarkan data terkini, jumlah warga yang benar-benar belum mengenyam pendidikan kini tersisa 27 orang. Angka ini jauh menurun dibandingkan data awal yang mencapai lebih dari seribu kasus.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Blitar, Dindin Alinurdin, menjelaskan bahwa pihaknya mulai menerima data awal sebanyak 1.005 ATS dari kementerian pada akhir 2024.
Sepanjang 2025, proses penelusuran dilakukan secara intensif dengan melibatkan kecamatan, kelurahan, hingga surveyor dari lembaga masyarakat.
“Hasilnya, dari 1.005 data awal, sebanyak 900-an sudah terjawab dan sudah tidak masuk kategori ATS. Saat ini tinggal menyisakan 104 data yang masih dalam proses verval,” jelasnya.
Ia merinci, sebagian besar dari 900-an data tersebut ternyata merupakan warga yang sudah lulus sekolah, namun belum terbarui secara administratif, pindah domisili, atau bahkan telah meninggal dunia.
Untuk kasus perpindahan penduduk, Dispendik juga berkoordinasi dengan dinas kependudukan guna memastikan pembaruan data berjalan akurat.
Dari proses penyisiran tersebut, ditemukan angka riil sebanyak 27 orang yang benar-benar tidak bersekolah. Penyebabnya beragam, mulai dari faktor ekonomi hingga kondisi disabilitas.
“Dari 27 orang tersebut, hampir separo sudah kami dorong masuk ke PKBM untuk pendidikan kesetaraan. Sisanya masih terkendala karena kondisi disabilitas,” tambahnya.
Kategori ATS sendiri mencakup warga usia 7 hingga 18 tahun maupun dewasa yang belum memiliki ijazah dasar.
Di lapangan, terdapat tiga klasifikasi utama, yakni belum pernah bersekolah, putus sekolah, serta lulus namun tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya.
Sebagai langkah lanjutan, Pemkot Blitar berkomitmen memperluas akses pendidikan dengan menekan biaya seminimal mungkin.
Bahkan, bantuan biaya pendidikan disiapkan untuk sekolah negeri, swasta, maupun jalur nonformal. “Kami berikan bantuan biaya agar seluruh warga usia sekolah bisa mengenyam pendidikan tanpa terkecuali,” pungkas Dindin.
Komentar 0
Masuk untuk ikut berkomentar.