Kasus PMK di Blitar Terkendali, Tingkat Kesembuhan Ternak Capai Hasil Positif
Kasus PMK di Kabupaten Blitar menjelang Idul Adha 2026 semakin terkendali. Disnakkan mencatat tingkat kesembuhan ternak tinggi berkat vaksinasi rutin.
Poin Penting
- Disnakkan Kabupaten Blitar menyebut penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) menjelang Idul Adha 2026 semakin terkendali.
- Sebanyak 168 ekor ternak dilaporkan sembuh dari PMK, sementara tujuh ekor lainnya masih dalam pemantauan medis.
- Pemerintah juga terus memantau potensi penyebaran Lumpy Skin Disease (LSD) melalui pemeriksaan kesehatan ternak dan vaksinasi rutin.
Kabar Blitar – Situasi penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak di Kabupaten Blitar menjelang Idul Adha 2026 dilaporkan semakin terkendali.
Program vaksinasi yang dilakukan secara berkelanjutan dinilai mampu menekan penyebaran virus sehingga tidak terjadi lonjakan kasus baru di kalangan peternak.
Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Blitar mencatat tingkat kesembuhan ternak yang sempat terpapar PMK kini cukup tinggi.
Dari total kasus yang sebelumnya ditangani, sebagian besar hewan ternak telah dinyatakan sembuh dan hanya menyisakan beberapa ekor yang masih dalam pemantauan medis.
Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Disnakkan Kabupaten Blitar, drh. Lusia Adityaningtyas, mengatakan kondisi PMK di wilayah Kabupaten Blitar saat ini relatif aman berkat percepatan vaksinasi dan meningkatnya kesadaran peternak dalam melaporkan gejala penyakit.
“Kalau kasus belum ada laporan kasus baru yang signifikan ya. Kondisinya sudah teratasi karena kita ada program vaksinasi, jadi untuk penambahan kasus juga tidak terlalu banyak. Tingkat kesembuhannya juga sangat tinggi,” ujar Lusia.
Ia menjelaskan sebanyak 168 ekor ternak sebelumnya telah dinyatakan sembuh total dari PMK. Saat ini petugas kesehatan hewan masih melakukan pemantauan terhadap tujuh ekor ternak yang masih dalam tahap penyembuhan.
“Sekarang kami hanya menyisakan tujuh ekor yang sakit, tapi tingkat kesembuhannya sudah sangat tinggi,” tambahnya.
Selain PMK, Disnakkan Kabupaten Blitar juga terus memantau potensi penyebaran Lumpy Skin Disease (LSD) atau penyakit kulit berbenjol pada sapi.
Namun, kondisi LSD di Kabupaten Blitar disebut masih terkendali dan belum menunjukkan perkembangan yang mengkhawatirkan.
Menurut Lusia, penyebaran LSD cenderung lebih lambat dibanding PMK sehingga penanganannya lebih mudah dilakukan sejak dini.
Kesadaran peternak yang cepat melapor ketika menemukan gejala mencurigakan juga dinilai membantu proses pengendalian penyakit.
“Biasanya peternak langsung menghubungi dokter hewan saat ada gejala mencurigakan, sehingga penanganannya bisa cepat dilakukan dan tidak sampai meluas,” jelasnya.
Dengan kondisi yang semakin stabil, Disnakkan berharap masyarakat tidak perlu khawatir dalam mempersiapkan kebutuhan hewan kurban menjelang Idul Adha 2026.
Pemeriksaan kesehatan ternak juga terus dilakukan guna memastikan hewan yang beredar dalam kondisi sehat dan layak kurban.
Komentar 0
Masuk untuk ikut berkomentar.