Nilai Tukar Rupiah Makin Melemah Terhadap Dolar AS, Ekonom Ungkap Penyebab dan Prospeknya
Nilai tukar rupiah melemah ke Rp17.932 per dolar AS akibat tekanan global dan domestik. Ekonom menilai stabilisasi rupiah bergantung pada harga minyak, arus investasi asing, dan kondisi fiskal Indonesia.
Poin Penting
- Rupiah melemah akibat kombinasi faktor global seperti konflik AS-Iran, penguatan dolar AS, dan tingginya harga minyak dunia.
- Melemahnya surplus neraca perdagangan Indonesia serta meningkatnya inflasi domestik turut menekan nilai tukar rupiah.
- Rupiah berpotensi menguat jika harga minyak turun, investasi asing meningkat, dan pemerintah mampu menjaga kredibilitas kebijakan fiskal.
Kabar Blitar – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS).
Pada perdagangan Rabu (3/6/2026) pukul 11.03 WIB, rupiah tercatat berada di level Rp17.932 per dolar AS atau melemah sekitar 0,46 persen.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai pelemahan rupiah saat ini dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik. Menurutnya, pasar tidak lagi melihat tekanan terhadap rupiah sebagai faktor musiman semata.
Ia menjelaskan, ketidakpastian konflik antara AS dan Iran masih menjadi sentimen utama yang mendorong penguatan dolar AS sebagai aset aman.
Selain itu, tingginya harga minyak dunia dan kekhawatiran terhadap pasokan energi melalui Selat Hormuz turut memberikan tekanan pada mata uang negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia.
“Indonesia masih bergantung pada impor minyak dan LPG. Ketika harga energi naik, kebutuhan dolar untuk transaksi impor juga meningkat sehingga memberikan tekanan terhadap rupiah,” ujarnya.
Sementara dari dalam negeri, melemahnya surplus neraca perdagangan juga menjadi faktor yang memperberat tekanan nilai tukar rupiah.
Surplus perdagangan Indonesia pada April 2026 tercatat hanya sekitar USD0,09 miliar, jauh menurun dibandingkan Maret 2026 yang mencapai USD3,32 miliar.
Secara kumulatif, surplus perdagangan Januari-April 2026 juga turun menjadi USD5,64 miliar dari sebelumnya USD11,07 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
“Pasokan dolar dari sektor perdagangan menjadi lebih terbatas. Sementara kebutuhan impor untuk bahan baku, energi, dan barang modal terus meningkat,” jelas Josua.
Tekanan lain datang dari kenaikan inflasi. Pada Mei 2026, inflasi meningkat menjadi 3,08 persen dari sebelumnya 2,42 persen pada April. Kenaikan biaya energi, bahan baku impor, transportasi, dan kebutuhan menjelang Iduladha menjadi faktor pendorong utama.
Di sektor industri, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur juga menunjukkan peningkatan biaya produksi yang cukup tinggi, sementara aktivitas produksi terus mengalami penurunan dalam tiga bulan terakhir.
Meski demikian, Josua melihat peluang stabilisasi rupiah mulai terbuka karena sejumlah faktor musiman seperti pembayaran dividen dan kebutuhan valas untuk penyelenggaraan ibadah haji telah melewati puncaknya.
Namun ia mengingatkan, berkurangnya tekanan musiman belum cukup untuk mendorong penguatan signifikan apabila harga minyak tetap tinggi, arus modal asing belum pulih, dan pasar masih mencermati kondisi fiskal nasional.
“Peluang penguatan rupiah tetap ada, tetapi lebih realistis jika disebut sebagai stabilisasi bertahap dibanding penguatan yang berlangsung cepat,” katanya.
Menurut Josua, rupiah berpotensi kembali menguat ke kisaran Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS apabila harga minyak dunia turun, arus investasi asing kembali masuk ke pasar keuangan domestik, dan pemerintah mampu memberikan sinyal fiskal yang meyakinkan.
Sebaliknya, jika harga minyak terus meningkat, konflik geopolitik memburuk, serta investor masih melihat risiko pada sektor fiskal dan neraca eksternal, rupiah diperkirakan bertahan di kisaran Rp17.800 hingga Rp18.000 per dolar AS.
Ia menambahkan, langkah stabilisasi yang dilakukan Bank Indonesia melalui intervensi pasar, penguatan instrumen SRBI, pembelian SBN, hingga pengawasan transaksi valas tetap penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Namun, penguatan rupiah yang berkelanjutan tetap membutuhkan dukungan dari peningkatan pasokan devisa ekspor, masuknya investasi, serta terjaganya kredibilitas kebijakan fiskal pemerintah.
“Dalam jangka pendek rupiah berpeluang menguat seiring meredanya tekanan musiman. Namun dalam jangka menengah, penguatan yang sehat hanya bisa terjadi jika pasokan devisa membaik, risiko fiskal terkendali, dan kebijakan pemerintah berjalan konsisten,” pungkasnya.
Komentar 0
Masuk untuk ikut berkomentar.