Dukung jurnalisme lokal, bebas iklan dan bebas berkomentar. Daftar Member
Sosial

7 Bulan Tak Dibayar, Mitra Hentikan Operasional Dapur SPPG Sananwetan

Dapur SPPG Sananwetan di Blitar ditutup sementara oleh mitra penyedia tempat karena pembayaran dari yayasan pengelola belum diterima selama tujuh bulan. Mitra mengaku mengalami kerugian sekitar Rp500 juta sejak kerja sama dimulai Agustus 2025.

7 Bulan Tak Dibayar, Mitra Hentikan Operasional Dapur SPPG Sananwetan
Penutupan SPPG Sananwetan.

Poin Penting

  • Operasional dapur SPPG Sananwetan di Blitar ditutup sementara oleh mitra penyedia tempat.
  • Mitra mengaku belum menerima pembayaran dari yayasan pengelola selama tujuh bulan.
  • Penutupan dapur berpotensi menghentikan layanan bagi sekitar 2.500 penerima manfaat.

Kabar Blitar – Operasional dapur SPPG Sananwetan di Blitar terpaksa dihentikan sementara setelah mitra penyedia tempat menutup aktivitas dapur.

Penutupan dilakukan karena mitra mengaku belum menerima pembayaran dari pihak yayasan pengelola selama tujuh bulan terakhir.

Mitra dapur, Hani Masrukin, mengatakan keputusan menutup dapur diambil karena haknya sebagai pemilik tempat sekaligus penyedia fasilitas belum dipenuhi sejak kerja sama dimulai pada Agustus 2025.

“Selama tujuh bulan saya belum mendapatkan hasil dari sini. Untuk sewa tempat dan alat belum dibayarkan,” ujarnya.

Ia menjelaskan kerja sama dilakukan dengan Yayasan Antin Sekar Bhakti yang dipimpin oleh ketua yayasan, Hartini. 

Dalam kesepakatan tersebut, Hani menyediakan rumah yang disewa untuk dijadikan dapur sekaligus melakukan renovasi agar sesuai dengan standar operasional.

Menurutnya, bangunan tersebut disiapkan sebagai basis operasional dapur yang menjadi bagian dari program pemenuhan gizi. 

Namun dalam perjalanannya, pembayaran yang seharusnya diterima belum juga diberikan oleh pihak yayasan.

“Kesepakatannya kerja sama. Saya menyediakan tempat dan sudah melakukan renovasi sesuai kebutuhan dapur. Tapi pembayaran yang seharusnya keluar malah dipakai untuk kebutuhan peralatan yang belum lunas,” katanya.

Akibat kondisi tersebut, Hani mengaku mengalami kerugian cukup besar sejak Agustus 2025 hingga Maret 2026. “Kerugiannya kurang lebih sekitar Rp500 juta lebih,” ungkapnya.

Ia menegaskan dapur akan tetap ditutup hingga persoalan pembayaran diselesaikan oleh pihak yayasan.

“Saya tutup dulu sampai hak saya dikembalikan. Kalau sudah selesai, kerja sama bisa dilanjutkan lagi. Kalau tidak, ya saya hentikan,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala SPPG Sananwetan, Habibi, mengatakan pihaknya hanya berperan sebagai mediator dalam konflik antara yayasan dan mitra dapur.

“Tugas kami menengahi dan memediasi agar masalah ini bisa diselesaikan secara musyawarah,” ujarnya.

Habibi mengakui apabila dapur benar-benar berhenti beroperasi, maka distribusi layanan akan terdampak. Saat ini dapur tersebut melayani sekitar 2.500 penerima manfaat.

“Kalau operasional dapur berhenti, otomatis kegiatan juga harus dihentikan sementara sampai masalahnya selesai,” katanya.

#MBG Blitar #SPPG di Blitar

Komentar 0

Baca Juga