Dukung jurnalisme lokal, bebas iklan dan bebas berkomentar. Daftar Member
Opini

Antara Emansipasi dan Penjara Sukarela: Ketika Kebebasan Jadi Ilusi Belaka

Artikel ini membahas paradoks emansipasi perempuan di era modern yang justru berpotensi menjadi “penjara sukarela”. Dengan menyoroti konsep choice feminism dan Mauvaise Foi, tulisan ini mengulas bagaimana standar sosial, media digital, dan kapitalisme membentuk ilusi kebebasan yang membatasi autentisitas perempuan.

Antara Emansipasi dan Penjara Sukarela: Ketika Kebebasan Jadi Ilusi Belaka
Aktivis Perempuan, Silvia Ahmidah

Poin Penting

  • Emansipasi perempuan di era modern dinilai bergeser menjadi bentuk kontrol baru yang tidak kasat mata.
  • Konsep choice feminism memunculkan ilusi kebebasan yang dipengaruhi tekanan sosial dan kapitalisme.
  • Perempuan berpotensi mengalami penundukan diri melalui standar sosial dan tuntutan self-improvement tanpa henti.

Kabar Blitar – Apa sebenarnya makna kebebasan itu? Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika melihat bagaimana kebebasan perempuan hari ini justru kerap bertransformasi menjadi bentuk penjara yang tak kasat mata. 

Alih-alih benar-benar meruntuhkan struktur penindasan, narasi emansipasi sering kali hanya memindahkan pusat kontrol—dari sistem patriarki lama menuju bentuk baru yang lebih subtil: diri sendiri. 

Standar yang dibentuk oleh pasar, media sosial, dan tatapan publik perlahan menjelma menjadi mekanisme pengendali yang tak kalah kuat.

Ilusi Pilihan

Dalam konteks ini, konsep choice feminism atau feminisme pilihan menjadi problematis. Ketika seorang perempuan merasa bebas menentukan pilihan—misalnya dalam mengikuti standar kecantikan tertentu—muncul pertanyaan mendasar: apakah itu benar-benar pilihan bebas? Atau justru respons terhadap tekanan yang telah dinormalisasi? 

Kebebasan yang semestinya menjadi alat pembebasan dari objektifikasi justru berbalik arah, menjadi sarana untuk mengoptimalkan diri agar tetap “bernilai” dalam logika kapitalisme dan eksposur digital.

Penundukan Diri Perempuan

Fenomena ini sejalan dengan konsep Mauvaise Foi yang dikemukakan oleh Jean-Paul Sartre, yaitu kondisi ketika seseorang membohongi dirinya sendiri dengan menganggap bahwa tindakan yang sebenarnya dipengaruhi tekanan eksternal adalah murni kehendak pribadi. 

Dalam era digital, perempuan tidak hanya dilihat, tetapi juga merasa terus diawasi—oleh algoritma, oleh standar viralitas, oleh validasi sosial. 

Akibatnya, mereka secara sadar menyesuaikan diri, membentuk citra yang “layak tampil”, meski harus mengorbankan autentisitas diri.

Kebebasan sebagai Penjara Baru

Kebebasan pun mengalami pergeseran makna. Ia tak lagi sekadar hak untuk menjadi diri sendiri, melainkan berubah menjadi kewajiban untuk terus memperbaiki diri tanpa henti. Self-improvement menjadi tuntutan yang tidak pernah selesai. 

Dalam kondisi ini, perempuan tidak lagi sekadar menjadi objek sistem, tetapi juga subjek yang menghukum dirinya sendiri—merasa bersalah saat tidak cukup sempurna, tidak cukup produktif, atau tidak cukup sesuai ekspektasi.

Emansipasi yang sejatinya bertujuan memutus rantai ketergantungan justru melahirkan bentuk pengungkungan baru yang lebih halus. 

Rantai itu tak lagi terlihat secara fisik, melainkan tersembunyi dalam hasrat, pilihan, dan standar yang kita yakini sebagai bagian dari kebebasan itu sendiri.

#Aktivis Perempuan #Kebebasan

Komentar 0

Baca Juga