Dukung jurnalisme lokal, bebas iklan dan bebas berkomentar. Daftar Member
Blitarpedia

Asal Usul Ikan Mujair yang Ditemukan Mbah Moedjair dari Blitar

Meski memiliki nama ilmiah dan disebut-sebut berasal dari Afrika, ikan mujair nyatanya berhasil dikembangbiakkan di air tawar oleh pria asal Blitar, Mbah Moedjair.

Asal Usul Ikan Mujair yang Ditemukan Mbah Moedjair dari Blitar
Makam Mbah Moedjair sang penemu ikan mujair.

Poin Penting

  • Mbah Moedjair asal Blitar berhasil mengembangbiakkan ikan mujair di air tawar.
  • Budidaya tersebut menarik perhatian seorang pejabat Belanda bernama Schuster.
  • Pihak militer Jepang bahkan membantu penyebaran budidaya ikan mujair ke berbagai daerah..

Kabar Blitar – Tak banyak yang menduga, seorang pria asal Blitar, Jawa Timur, justru mencatatkan namanya dalam sejarah perikanan dunia setelah menemukan ikan yang kemudian dikenal luas sebagai ikan mujair. 

Pria tersebut adalah Mbah Moedjair, sosok yang kelak diangkat menjadi pegawai negeri tanpa melalui seleksi dan menerima gaji rutin meski tidak menjalankan tugas kedinasan, berkat jasanya menemukan jenis ikan baru.

Peristiwa itu bermula pada 1936, meski sejumlah sumber lain menyebutkan tahun 1939. Saat itu, Mbah Moedjair berkunjung ke Laut Selatan Jawa dan tanpa sengaja menemukan sekelompok ikan dengan bentuk yang belum pernah ia lihat sebelumnya. 

Didorong rasa penasaran, ia mengambil lima ekor ikan tersebut dan membawanya pulang untuk dipelihara di kolam air tawar miliknya.

Dalam ilmu perikanan, ikan air asin umumnya tidak mampu bertahan hidup di air tawar. Namun keanehan justru terjadi. 

Ikan yang ditemukan Mbah Moedjair tidak hanya mampu hidup, tetapi juga berkembang biak dengan sangat cepat. 

Dari lima ekor ikan yang dibawanya, dua di antaranya bahkan berhasil bertelur dan menetas. Atas dasar itulah, Mbah Moedjair meyakini ikan tersebut memiliki keistimewaan.

Kabar tentang ikan yang mampu hidup lintas habitat itu kemudian menyebar ke masyarakat sekitar hingga akhirnya menarik perhatian seorang pejabat Belanda bernama Schuster. 

Setelah dilakukan kajian, ikan tersebut diketahui sebagai Tilapia mossambica. "Ternyata itu Tilapia mossambica," kata Schuster, dikutip dari Studies on Tilapia Mossambica Peters (ikan Mudjair) in Indonesia (1952).

Tilapia mossambica diketahui berasal dari Afrika. Hingga kini, tidak ada penjelasan pasti mengenai bagaimana ikan mujair tersebut bisa sampai ke perairan Indonesia. 

Namun setelah temuan Mbah Moedjair dikenal luas, masyarakat mulai membudidayakannya di berbagai tempat, mulai dari kolam, tambak, rawa, hingga akuarium. 

Di semua lingkungan tersebut, ikan ini terbukti mampu hidup dan berkembang dengan baik. Sejak saat itu, ikan tersebut dikenal dengan nama lokal “mujair”, diambil dari nama penemunya.

Atas jasanya, pemerintah kolonial Belanda memberikan penghargaan berupa uang sebesar Rp 6 per bulan kepada Moedjair. Ia juga diangkat sebagai pegawai negeri tanpa seleksi dan tanpa kewajiban bekerja. 

Ketika masa pendudukan Jepang berlangsung, pihak militer Jepang bahkan turut membantu penyebaran budidaya ikan mujair ke berbagai daerah.

Memasuki masa pascakemerdekaan, popularitas ikan mujair justru semakin meningkat. Majalah Landbouwkundig Tijdschrift edisi Desember 1948 mencatat bahwa ikan mujair menjadi harapan baru masyarakat untuk menggantikan budidaya udang dan bandeng yang rusak akibat perang. 

Kemampuan ikan mujair dalam beradaptasi dengan cepat serta tingkat reproduksi yang tinggi dinilai mampu mendongkrak perekonomian rakyat.

Keberhasilan Mbah Moedjair juga membuat namanya dikenal hingga ke tingkat internasional. Ia menerima berbagai penghargaan, termasuk dari Kementerian Pertanian, serta disebut dalam sejumlah riset global. 

Dalam buku Tilapia: Biology, Culture, and Nutrition (2006) disebutkan bahwa berkat temuan Moedjair, ikan mujair kini tersebar luas ke Asia, Eropa, hingga seluruh kawasan Amerika.

Moedjair meninggal dunia pada 7 September 1957. Meski demikian, warisan yang ditinggalkannya terus hidup hingga kini. 

Ikan hasil temuannya masih menjadi sumber pangan dan penghidupan bagi jutaan orang di berbagai belahan dunia. 

Meski memiliki nama ilmiah Tilapia mossambica, masyarakat lebih mengenalnya dengan nama sederhana yang mengabadikan sang penemu, yakni ikan mujair.

#Ikan Mujair #Mbah Moedjair

Komentar 0

Baca Juga