Dukung jurnalisme lokal, bebas iklan dan bebas berkomentar. Daftar Member
Peristiwa

Bak Barang Mewah, Krisis Air Bersih Buat Warga Blitar Sempat Rogoh Kocek Rp80 Ribu

Kemarau panjang menyebabkan 162 warga dari 40 KK di Dusun Rampalombo, Desa Margomulyo, Panggungrejo, Blitar, mengalami krisis air bersih. Warga bahkan harus membeli 1.000 liter air seharga Rp80 ribu.

Kekeringan di Blitar
Krisis air bersih di wilayah Blitar. (Ist)

Poin Penting

  • Dusun Rampalombo, Desa Margomulyo, Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar, mengalami krisis air bersih.

  • Warga sempat harus membeli air sekitar Rp80 ribu per 1.000 liter.

  • Pemprov Jawa Timur melalui BPBD Jatim menyalurkan 17.000 liter air bersih ke Desa Margomulyo.

Kabar Blitar – Musim kemarau panjang membuat air bersih menjadi barang mahal bagi warga Dusun Rampalombo, Desa Margomulyo, Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Sebanyak 162 jiwa dari 40 kepala keluarga (KK) di wilayah tersebut mengalami krisis air bersih setelah sumur dan sumber air utama warga mengering.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sebagian warga bahkan terpaksa membeli air dengan harga sekitar Rp80 ribu untuk 1.000 liter.

Kondisi tersebut membuat warga harus menghemat penggunaan air secara ketat, mengantre di sumber air alami atau mbelik, hingga membeli pasokan air dari pihak swasta.

Salah seorang warga terdampak, Nanik (52) mengatakan dirinya terpaksa mengeluarkan biaya tambahan untuk memenuhi kebutuhan air rumah tangga sebelum bantuan air bersih rutin masuk ke wilayahnya.

“Sebelum ada bantuan, saya terpaksa beli air Rp80.000 dapat kurang lebih 1.000 liter untuk kebutuhan rumah. Tapi tidak bisa beli sering-sering karena ya harus hemat uang,” kata Nanik.

Menurut Nanik, Dusun Rampalombo memang menjadi salah satu wilayah yang langganan mengalami krisis air bersih setiap musim kemarau.

Pada awal kemarau, warga masih bisa mengandalkan sumber air alami atau mbelik yang berada di sekitar permukiman.

Namun, debit air terus menyusut seiring kemarau berlangsung hingga sumber tersebut tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan warga.

“Awal-awal masih ada sumber air, tapi lama-lama susut. Air yang sudah ada di rumah benar-benar pemakaiannya harus dihemat,” ujarnya.

Krisis air bersih tersebut telah berlangsung lebih dari dua bulan dan membuat aktivitas sehari-hari warga ikut terganggu.

Warga lainnya, Sulastri (58) mengatakan hampir seluruh kebutuhan rumah tangga bergantung pada ketersediaan air sehingga mengeringnya sumur membuat warga kesulitan beraktivitas.

“Sudah dua bulanan lebih susah banget dapat air, padahal apa-apa butuh air. Ada mbelik, tapi airnya surut. Karena kekeringan, warga terpaksa ambil ke sana dan harus antre bergiliran,” kata Sulastri.

Pada Sabtu (5/9/2026), Pemprov Jatim menyalurkan bantuan air bersih untuk warga terdampak kekeringan, termasuk 40 KK atau 162 jiwa di Desa Margomulyo.

Bantuan untuk wilayah tersebut mencapai 17.000 liter air bersih.

#Kekeringan di Blitar #Krisis Air Bersih Blitar #Musim Kemarau Blitar

Komentar 0

Baca Juga