Berjalan Sejak 1990-an, Pengrajin Payung Kertas Asal Blitar Masih Bertahan
Asbani (70), warga Kelurahan Bendo, Kota Blitar, masih mempertahankan kerajinan payung kertas yang ditekuninya sejak 1990-an secara otodidak.
Poin Penting
Asbani (70), warga Kelurahan Bendo, Kota Blitar, masih menekuni kerajinan payung kertas yang dipelajarinya secara otodidak sejak 1990-an.
Usahanya sempat vakum sekitar 10 tahun setelah pelanggan tetap dari Sidoarjo berhenti memesan, sebelum kembali produksi sekitar empat tahun lalu.
Kini Asbani rata-rata menjual sekitar 350 payung kertas per bulan dengan harga Rp10 ribu per buah, dari pesanan Tulungagung, Kediri, Surabaya, dan Blitar.
Kabar Blitar – Di tengah maraknya penggunaan payung modern, kerajinan payung kertas masih dipertahankan Asbani, 70, warga Kelurahan Bendo, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar.
Hampir setiap hari, Asbani membuat payung kertas dengan merangkai bambu dan memasang kertas sebagai penutupnya.
Ia mulai mengenal kerajinan payung kertas sejak 1990-an dan belajar secara otodidak hingga mampu memproduksinya sendiri.
Pada awal menjalankan usaha, pesanan payung kertas milik Asbani bahkan datang dalam jumlah besar dari Sidoarjo sehingga ia sempat meminta bantuan sejumlah tetangga.
Namun, usaha tersebut perlahan meredup setelah pelanggan tetapnya berhenti melakukan pemesanan.
"Pelanggan tetap itu dari Sidoarjo, tapi tiba-tiba berhenti memesan sampai akhirnya tutup total karena sepi pembeli," ceritanya.
Asbani kemudian meninggalkan kerajinan tersebut selama sekitar 10 tahun dan mencoba berbagai usaha untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Ia sempat beternak jangkrik serta memelihara kambing dan sapi sebelum akhirnya kembali membuat payung kertas.
Sekitar empat tahun lalu, Asbani kembali menekuni kerajinan tersebut, salah satunya karena pandemi Covid-19 yang membuatnya kembali memiliki waktu untuk memproduksi payung.
"Empat tahunan ini mulai produksi lagi dan alhamdulillah selalu ada pesanan, meskipun tidak sebanyak dulu. Dari Tulungagung, Kediri, Surabaya, dan lokal Blitar," ujarnya.
Dalam sebulan, Asbani rata-rata mampu menjual sekitar 350 payung kertas dengan harga Rp10 ribu per buah.
Pesanan tersebut datang untuk berbagai kebutuhan, salah satunya dari guru yang memanfaatkan payung kertas sebagai bahan tugas mewarnai bagi siswa.
Selain itu, payung buatannya juga digunakan sebagai payung untuk makam.
Seluruh proses produksi kini dilakukan Asbani seorang diri, mulai dari menyiapkan bahan, membuat rangka, hingga memasang kertas sebagai penutup.
Untuk menekan biaya produksi, sebagian bahan kayu diperoleh dari limbah milik perajin.
Sementara rangka payung dibuat menggunakan belahan bambu yang kemudian dirangkai dengan benang.
Bambu yang telah menjadi rangka kemudian dipasang pada batang kayu yang sebelumnya dibentuk memanjang untuk dijadikan gagang payung.
Tahap terakhir dilakukan dengan menempelkan kertas pada rangka menggunakan lem.
Bagi Asbani, kerajinan payung kertas bukan hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga keterampilan yang telah dipertahankannya selama puluhan tahun.
Meski peminatnya tidak sebanyak dahulu, ia tetap mempertahankan usaha tersebut selama masih ada pesanan.
"Sekarang ya dikerjakan sendiri. Yang penting masih ada yang pesan," pungkasnya.
Komentar 0
Masuk untuk ikut berkomentar.