Dukung jurnalisme lokal, bebas iklan dan bebas berkomentar. Daftar Member
Feature

Buat Produk Kebersihan dari Bahan Organik, SMPN 1 Nglegok Bawa Eco Enzyme ke Pasar Internasional

SMPN 1 Nglegok, Kabupaten Blitar, hasilkan produk dari eco enzyme. Produk dipasarkan sebagai media pembelajaran kewirausahaan siswa.

Pembuatan eco enzyme di SMPN 1 Nglegok
Pembuatan eco enzyme di SMPN 1 Nglegok Blitar. (Ist)

Poin Penting

  • SMPN 1 Nglegok ajarkan siswa mengolah bahan organik menjadi eco enzyme.

  • Eco enzyme di sekolah tidak dikomersialkan dan diberikan secara gratis.

  • Produk yang dihasilkan dipasarkan untuk pembelajaran kewirausahaan siswa.

Kabar Blitar – Kulit buah, sisa sayuran, hingga bahan organik yang biasanya berakhir di tempat sampah memiliki cerita berbeda di lingkungan sekolah.

Di SMPN 1 Nglegok, Kabupaten Blitar, limbah organik diolah menjadi eco enzyme dan dikembangkan menjadi berbagai produk turunan yang sekaligus menjadi media pembelajaran bagi siswa.

Eco enzyme di sekolah tersebut tidak berdiri sebagai program tersendiri.

Pengolahannya menjadi bagian dari program Adiwiyata, khususnya dalam upaya memanfaatkan sampah sekaligus memberikan nilai tambah dari limbah yang dihasilkan lingkungan sekolah.

Kepala UPT SMPN 1 Nglegok, Cahyo Rohmadiyanto mengatakan, pengembangan pengelolaan sampah tersebut telah berlangsung seiring perjalanan sekolah dalam program Adiwiyata.

“Eco enzyme itu bukan suatu produk yang berdiri sendiri ya. Jadi, itu merupakan bagian dari program yang ada di sekolah kita yang merupakan bagian dari program sekolah Adiwiyata,” ujar Cahyo.

Perjalanan tersebut dimulai ketika sekolah mengikuti program Adiwiyata tingkat kabupaten, kemudian berkembang ke tingkat provinsi dan nasional hingga akhirnya ditetapkan sebagai sekolah Adiwiyata mandiri.

Dalam prosesnya, pengelolaan sampah tidak hanya diarahkan untuk mengurangi limbah.

Sekolah juga berupaya agar sampah yang dihasilkan dapat dimanfaatkan kembali dan memiliki nilai guna bagi masyarakat.

Eco enzyme yang dihasilkan kemudian didistribusikan kepada pihak-pihak yang terlibat langsung dalam proses pengolahan serta masyarakat atau pihak lain yang membutuhkan.

Cahyo berharap keterampilan yang diperoleh siswa tidak berhenti di lingkungan sekolah.

“Kami berharap tentunya siswa SMAN 1 Nglekok setelah memperoleh pembekalan di dalam pengelolaan sampah bisa berkontribusi di dalam penyelesaian sampah khususnya di sekeliling lingkungan sekolah dan kami tentu berharap itu bisa berkembang di dalam pola kehidupan mereka sehari-hari,” katanya.

Pengembangan eco enzyme di sekolah juga melahirkan berbagai produk turunan.

Ketua Tim Adiwiyata UPT SMPN 1 Nglegok mengatakan, pemanfaatan eco enzyme di sekolah telah berkembang cukup luas, tidak hanya dalam bentuk cairan hasil fermentasi.

Produk yang dibuat antara lain sabun mandi batang, sabun mandi cair, deterjen cair, cairan pel lantai, hingga sabun untuk mencuci batik yang dikombinasikan dengan lerak.

Eco enzyme juga pernah dimanfaatkan sebagai campuran dalam pembuatan pupuk organik cair.

Menariknya, cairan eco enzyme yang dihasilkan sekolah tidak dikomersialkan.

“Kalau eco enzyme-nya tidak dikomersialkan ya. Ini perlu digaris bawahi. Eco enzyme di sini gratis,” jelas Purnawati.

Berbeda dengan eco enzyme, produk turunannya dipasarkan sebagai bagian dari pembelajaran kewirausahaan bagi siswa.

Menurut Purnawati, kegiatan tersebut sekaligus memberikan keterampilan praktis kepada siswa agar mereka memiliki kemampuan membuat produk berbahan dasar eco enzyme.

“Jadi, memang kami jual. Dan kami pernah melayani itu [penjualan],” katanya.

Produk turunan tersebut bahkan pernah digunakan sebagai oleh-oleh dalam sebuah forum internasional yang digelar di Kota Blitar.

"Waktu itu ada forum internasional yang diikuti oleh sejumlah negara, kemudian ada pesanan agar produk turunan eco enzyme kami dijadikan oleh-oleh," bebernya.

Pengolahan eco enzyme juga tidak hanya dilakukan sebagai praktik tambahan.

Pembelajaran tersebut diintegrasikan ke dalam sejumlah kegiatan sekolah, mulai dari proyek, kegiatan kokurikuler hingga mata pelajaran.

Purnawati mencontohkan pembelajaran bahasa Inggris yang diampunya.

Ketika memasuki materi teks prosedur, siswa diajak mempraktikkan langsung proses pembuatan eco enzyme.

Sementara saat mempelajari materi iklan, siswa diminta praktik promosi produk turunan eco enzyme melalui media sosial.

"Kemudian pada tema iklan, anak-anak belajar mengiklankan produk-produk turunan eco enzyme itu melalui di medsos," tuturnya.

#Eco Enzyme Blitar #Kecamatan Nglegok

Komentar 0

Baca Juga