Dari Dapur Hajatan hingga Toko Oleh-oleh, Jenang Tetap Bertahan di Blitar
Tercatat dalam Serat Centhini pada 1814–1823, jenang merupakan makanan tradisional yang lekat dengan hajatan pernikahan dan kini menjadi jajanan di toko oleh-oleh Blitar.
Poin Penting
Jenang menjadi sajian tradisional dalam hajatan pernikahan di Blitar.
Tradisi ngudeg jenang pernah digelar secara massal di Lapangan Brubuh, Lodoyo.
Omah Jenang dirintis Haji Nyoto pada 1985 di Desa Rejowinangun, Kecamatan Kademangan.
Kabar Blitar – Jenang menjadi salah satu makanan tradisional yang lekat dengan tradisi hajatan masyarakat Jawa, termasuk di Kabupaten Blitar.
Makanan berbahan dasar tepung beras atau ketan ini kerap disajikan dalam acara pernikahan maupun khitanan.
Keberadaan jenang dalam tradisi Jawa bukan hal baru.
Naskah Serat Centhini yang ditulis pada 1814–1823 mencatat jenang sebagai bagian dari makanan dalam kehidupan masyarakat Jawa, termasuk dalam rangkaian hajatan pernikahan.
Dalam tradisi pernikahan, jenang kerap dimaknai sebagai simbol eratnya hubungan antara pasangan pengantin dan kedua keluarga.
Teksturnya yang lengket menjadi perlambang harapan agar ikatan yang terjalin dapat bertahan dan semakin kuat.
Proses pembuatan jenang yang membutuhkan waktu lama dan tenaga bersama juga mencerminkan kesabaran serta semangat gotong royong.
Makna tersebut membuat jenang tidak sekadar menjadi sajian, tetapi juga bagian dari ungkapan harapan dalam sebuah hajatan.
Di Kabupaten Blitar, jenang dikenal sebagai makanan tradisional yang biasa dihidangkan ketika masyarakat menggelar pernikahan maupun khitanan.
Tradisi ini tercatat dalam publikasi Pemerintah Kabupaten Blitar pada 13 Oktober 2013, saat kegiatan memasak jenang atau ngudeg jenang digelar secara massal di Lapangan Brubuh, Lodoyo, dengan melibatkan perwakilan dari 22 kecamatan.
Meski demikian, belum ada catatan sejarah yang memastikan kapan jenang pertama kali dikenal di Blitar atau sejak kapan makanan tersebut menjadi bagian dari tradisi pernikahan masyarakat setempat.
Seiring perkembangan zaman, jenang tidak hanya dibuat untuk keperluan hajatan.
Makanan tradisional ini juga berkembang menjadi produk usaha dan oleh-oleh khas daerah.
Salah satunya melalui usaha Omah Jenang di Desa Rejowinangun, Kecamatan Kademangan, yang dirintis Haji Nyoto pada 1985.
Selain itu, Desa Sumberagung, Kecamatan Panggungrejo, juga dikenal sebagai salah satu sentra produksi jenang jowo.
Komentar 0
Masuk untuk ikut berkomentar.