Dukung jurnalisme lokal, bebas iklan dan bebas berkomentar. Daftar Member
Wisata

De Karanganjar Koffieplantage Suguhkan Kopi Ala Kolonial Belanda di Blitar

De Karanganjar Koffieplantage menjadi salah satu tempat wisata sejarah di Kabupaten Blitar yang menyuguhkan nikmatnya kopi khas Kolonial Belanda.

De Karanganjar Koffieplantage Suguhkan Kopi Ala Kolonial Belanda di Blitar
Suasana di De Karanganjar Koffieplantage

Poin Penting

  • De Karanganjar Koffieplantage gugah sejarah era kolonial.
  • Suguhan kopi khas Kolonial Belanda juga tak kalah nikmat.
  • Spot foto dengan arsitektur Belanda jadi daya tarik tersendiri.

Kabar Blitar – Perkebunan Kopi Karanganyar atau De Karanganjar Koffieplantage di Kabupaten Blitar tidak hanya dikenal sebagai kawasan penghasil kopi, tetapi juga menyimpan jejak sejarah panjang kolonialisme Belanda di Nusantara. 

Berdiri sejak 1874, perkebunan ini telah melalui berbagai fase penting, mulai dari masa pengelolaan perusahaan Belanda hingga dinasionalisasi oleh Presiden Soekarno pada 1957. 

Saat ini, De Karanganjar Koffieplantage berkembang menjadi salah satu destinasi wisata sejarah dan edukasi kopi yang cukup populer di Jawa Timur.

De Karanganjar Koffieplantage berada di Desa Modangan, Kecamatan Mlegop, dengan luas mencapai sekitar 300 hektar. 

Kawasan ini terletak di lereng Gunung Kelud pada ketinggian kurang lebih 400 meter di atas permukaan laut. 

Kondisi geografis tersebut menghadirkan suasana sejuk khas pegunungan yang berpadu dengan hamparan pohon kopi tertata rapi, menciptakan pemandangan alam yang menenangkan bagi para pengunjung.

Daya tarik utama kawasan ini terletak pada bangunan-bangunan berarsitektur kolonial bergaya Indische Empire yang berasal dari abad ke-18 dan 19. 

Sejumlah ornamen peninggalan Belanda masih terawat dengan baik, termasuk pabrik pengolahan kopi tua serta kompleks bangunan yang dikenal dengan sebutan “Desa Belanda”. 

Nilai historis perkebunan ini semakin kuat dengan fakta bahwa Presiden Soekarno pernah berkunjung dan beristirahat di kawasan tersebut.

Seiring waktu, pengelolaan De Karanganjar Koffieplantage beralih ke tangan PT Harta Mulia, perusahaan pribumi yang didirikan oleh Denny Roy Syadi pada 1960. 

Hingga kini, pengelolaan perkebunan telah diwariskan kepada tiga generasi keluarga Roy Syadi yang tetap berupaya menjaga kelestarian nilai sejarah dan budaya yang ada di dalamnya.

Wisatawan yang berkunjung tidak hanya disuguhi panorama hijau dan udara segar, tetapi juga mendapatkan edukasi seputar sejarah kopi robusta yang menjadi produk unggulan Karanganyar. 

Selain robusta, perkebunan ini juga memproduksi kopi excelsa dan arabika yang diolah di pabrik kopi tua dan dapat dinikmati di OG Cafe, kafe bergaya kolonial yang ada di kawasan tersebut.

OG Cafe dikenal sebagai salah satu kafe bersejarah yang menyajikan kopi khas Blitar dengan iringan musik lawas era kemerdekaan. 

Di sekitar kafe, pengunjung dapat menjelajahi empat museum, di antaranya Museum Nugroho dan Museum Rumah Loji, yang menyimpan berbagai koleksi lukisan, pusaka, serta dokumentasi foto masa kolonial.

Di area taman Sterrentuin atau Taman Bintang, pengunjung dapat memberi makan burung dara. Kawasan ini juga dihuni rusa dan kuda poni yang jinak, menghadirkan suasana tenang layaknya alun-alun kota kecil di Eropa. 

Selain itu, tersedia layanan kartu pos yang bisa ditulis, ditempeli perangko, dan dikirim langsung melalui brievenbus atau kotak surat yang masih berfungsi.

Dengan tiket masuk sebesar Rp 25.000, wisatawan dapat menikmati perpaduan wisata alam, sejarah, dan edukasi kopi dalam satu kawasan. 

De Karanganjar Koffieplantage pun tak sekadar menjadi tujuan wisata, tetapi juga menjadi jendela sejarah yang menggambarkan peran kopi dalam perjalanan panjang bangsa Indonesia.

#De Karanganjar Koffieplantage #Wisata sejarah Blitar

Komentar 0

Baca Juga