Dekat Candi Penataran, Arca Warak Blitar Jadi Jejak Bengkel Pematung Kuno
Situs Arca Warak di Desa Modangan, Nglegok, Blitar, menyimpan arca, jaladwara, dan reruntuhan bangunan kuno masa Hindu-Buddha. Sejumlah pahatan yang belum rampung membuat situs ini menyimpan teka-teki tentang fungsi dan sejarahnya.
Poin Penting
Situs Arca Warak berada di Desa Modangan, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, tidak jauh dari kawasan Candi Penataran, dan menjadi salah satu peninggalan arkeologis masa klasik Hindu-Buddha.
Peninggalan di Situs Arca Warak meliputi arca, jaladwara, jambangan, serta batu-batu bangunan kuno, termasuk arca menyerupai gajah yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai Arca Warak atau Arca Badak.
Sejumlah pahatan yang belum selesai memunculkan dugaan bahwa Situs Arca Warak pernah menjadi lokasi pengerjaan atau pembelajaran memahat arca, meski fungsi dan asal-usul situs masih membutuhkan kajian arkeologis lebih lanjut.
Kabar Blitar – Di tengah permukiman warga Desa Modangan, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, tersimpan jejak peradaban masa lalu yang hingga kini masih menyisakan banyak teka-teki yang disebut dengan Situs Arca Warak.
Situs Arca Warak merupakan sebuah kelompok arca dan reruntuhan bangunan kuno.
Lokasinya pun berada tidak jauh dari kawasan Candi Penataran, hanya sekitar 7 menit jika melakukan perjalanan menggunakan kendaraan roda dua.
Keberadaan Situs Arca Warak bukan hanya ditandai oleh satu arca.
Sejumlah peninggalan arkeologis masih dapat ditemukan di kawasan tersebut, mulai dari arca, jaladwara, jambangan, hingga sejumlah batu yang menjadi bagian dari bangunan kuno.
Dokumen potensi wisata Kabupaten Blitar menyebut situs ini sebagai reruntuhan bangunan kuno dari masa klasik Hindu-Buddha.
Salah satu peninggalan yang paling menarik perhatian adalah arca berbentuk menyerupai gajah yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai Arca Warak.
Bentuknya cukup berbeda dibandingkan sejumlah arca lain karena pada bagian punggung terdapat saluran yang diduga berkaitan dengan aliran air.
Keberadaan sumber mata air di sekitar situs turut memperkuat dugaan bahwa kawasan tersebut memiliki keterkaitan dengan aktivitas yang berhubungan dengan air.
Keunikan lain terlihat dari sejumlah peninggalan yang kondisinya tidak lagi utuh.
Ada arca yang kehilangan bagian tubuh, sementara beberapa bongkahan batu di sekitar lokasi justru memperlihatkan bentuk pahatan yang seolah belum selesai.
Kondisi tersebut kemudian memunculkan dugaan bahwa kawasan Arca Warak tidak hanya digunakan sebagai tempat pemujaan atau aktivitas keagamaan, tetapi juga pernah menjadi lokasi pengerjaan arca.
“Ada kemungkinan lokasi ini menjadi tempat belajar memahat arca,” kata Lana Faizatussulaimah, pengurus Asta Gayatri Tulungagung saat berkunjung ke Situs Arca Warak.
Dugaan tersebut diperkuat dengan keberadaan beberapa pahatan yang bentuknya belum sempurna.
Ada batu yang menyerupai figur manusia, tetapi proporsi tubuhnya belum selesai.
Bahkan terdapat pahatan yang disebut menyerupai Dwarapala, namun bagian kakinya belum terbentuk sempurna.
“Di situs ini dikabarkan merupakan tempat memahat arca. Ada beberapa yang bentuknya belum rampung, proporsi tubuhnya belum seimbang. Bahkan ada yang menyerupai Dwarapala tapi kakinya belum jadi,” jelas Lana.
Selain pahatan yang belum rampung, situs ini juga menyimpan Arca Dwarapala dengan ukuran sekitar dua meter.
Di kawasan yang sama terdapat jaladwara yang memiliki fungsi sebagai saluran air pada bangunan kuno.
Salah satu jaladwara di Situs Arca Warak memiliki bentuk yang unik karena menyerupai gajah.
Nama Warak sendiri juga menyimpan keunikan tersendiri.
Masyarakat sekitar kerap menyebut salah satu arca tersebut sebagai Arca Badak. Namun, jika dilihat dari bentuknya, arca tersebut justru lebih menyerupai gajah.
“Masyarakat sekitar menyebutnya Arca Badak, padahal sebenarnya bentuknya gajah,” ujar Lana.
Sejumlah sumber mengenai situs tersebut memperkirakan peninggalan Arca Warak berkaitan dengan masa klasik Jawa.
Namun, asal-usul dan fungsi pastinya masih membutuhkan kajian arkeologis lebih lanjut.
Pemerintah Kabupaten Blitar sendiri mencatat Arca Warak sebagai salah satu potensi peninggalan arkeologi di wilayah Nglegok.
Situs ini mulai mendapat perhatian serius pada 1972 dan kemudian berada dalam pengelolaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Blitar sejak 1977.
Meski perawatan dilakukan secara berkala, kawasan tersebut disebut belum pernah menjalani penggalian arkeologis lanjutan.
Kondisi itu membuat Situs Arca Warak masih menyimpan sejumlah pertanyaan.
Siapa yang membuat pahatan-pahatan tersebut, untuk apa kawasan itu dibangun, serta mengapa terdapat sejumlah arca yang tampak belum selesai, semuanya masih menjadi bagian dari teka-teki yang belum sepenuhnya terjawab.
Di tengah perkembangan permukiman Desa Modangan, jejak batu tersebut tetap bertahan.
Bukan hanya sebagai peninggalan kuno, tetapi juga sebagai petunjuk bahwa kawasan Blitar memiliki sejarah peradaban yang jauh lebih kompleks daripada yang terlihat di permukaan.
Komentar 0
Masuk untuk ikut berkomentar.