Dukung jurnalisme lokal, bebas iklan dan bebas berkomentar. Daftar Member
Kesehatan

Kasus DBD Blitar Turun, Dinkes Waspadai Lima Kecamatan Tertinggi

Dinkes Kabupaten Blitar catat kasus DBD turun jadi 44 kasus, namun tetap waspadai lima wilayah puskesmas dengan temuan tertinggi.

Nyamuk DBD Blitar
Nyamuk penyebab DBD. (KBRB)

Poin Penting

  • Kasus DBD Kabupaten Blitar tercatat 44 kasus hingga pertengahan 2026, dengan Puskesmas Boro jadi wilayah tertinggi (8 kasus).
  • Case Fatality Rate (CFR) DBD Kabupaten Blitar tetap nol persen sepanjang 2026, seluruh pasien berhasil sembuh.
  • Dinkes intensifkan PSN dan larvasida di wilayah prioritas, imbau warga tetap terapkan 3M Plus.

KBRB – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar mengimbau masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap Demam Berdarah Dengue (DBD) meski jumlah kasus sepanjang 2026 menunjukkan tren penurunan.

Hingga pertengahan tahun, tercatat 44 kasus DBD di Kabupaten Blitar dengan sebaran yang masih terkonsentrasi di beberapa wilayah kerja puskesmas.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Blitar drg. Anggit Ditya Putranto mengatakan pemetaan persebaran kasus terus dilakukan sebagai dasar penentuan wilayah prioritas dalam upaya pencegahan dan pengendalian DBD.

Berdasarkan data Dinkes, wilayah kerja Puskesmas Boro mencatat jumlah kasus tertinggi dengan delapan penderita.

Selanjutnya Puskesmas Wates sebanyak tujuh kasus, Puskesmas Kademangan enam kasus, Puskesmas Kanigoro lima kasus, dan Puskesmas Wlingi empat kasus.

"Meskipun secara makro tren kasus DBD di Kabupaten Blitar mengalami penurunan drastis, pemetaan persebaran penderita per puskesmas tetap kami awasi secara ketat. Wilayah kerja Puskesmas Boro dan Wates menjadi atensi khusus kami saat ini untuk pengetatan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) serta edukasi kebersihan lingkungan secara masif," ujar drg. Anggit.

Anggit menjelaskan, tingginya temuan kasus di sejumlah wilayah tidak diikuti dengan peningkatan angka kematian.

"Seluruh pasien yang terkonfirmasi DBD selama 2026 berhasil mendapatkan penanganan medis hingga sembuh sehingga Case Fatality Rate (CFR) atau angka kematian akibat DBD tetap berada di angka nol persen," jelasnya.

Untuk menekan penyebaran penyakit, Dinkes bersama seluruh puskesmas terus mengintensifkan Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), program Satu Rumah Satu Jumantik, serta pembagian larvasida di wilayah yang memiliki risiko penularan lebih tinggi.

Selain itu, masyarakat diminta tidak lengah meski jumlah kasus mengalami penurunan.

Warga diimbau rutin menerapkan gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penyimpanan air, mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, serta melakukan berbagai langkah pencegahan lainnya.

"Keberhasilan mempertahankan tren penurunan kasus DBD tidak hanya bergantung pada upaya pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan memberantas sarang nyamuk secara rutin," tandasnya.

#Dinkes Kabupaten Blitar #Kasus DBD Blitar

Komentar 0

Baca Juga