Dukung jurnalisme lokal, bebas iklan dan bebas berkomentar. Daftar Member
News

Kemarau Panjang Ancam Pasokan Cabai di Blitar, Harga Tembus Rp70 Ribu per Kilogram

Harga cabai di Blitar Raya melonjak hingga Rp70 ribu per kilogram akibat berkurangnya pasokan dari petani. Musim kemarau panjang yang melanda wilayah Kabupaten Blitar bagian selatan membuat banyak petani menunda penanaman cabai karena keterbatasan air. Kondisi ini menyebabkan stok di pasar tradisional menyusut dan berpotensi memengaruhi stabilitas harga dalam beberapa bulan ke depan hingga musim hujan tiba.

Kemarau Panjang Ancam Pasokan Cabai di Blitar, Harga Tembus Rp70 Ribu per Kilogram
Harga cabai rawit mulai melambung tinggi. (Istimewa)

Poin Penting

  • DKPP Kabupaten Blitar menyebut pasokan cabai mulai berkurang karena sebagian besar tanaman cabai memasuki akhir masa panen.
  • Penanaman tumbuhan cabai baru ditunda oleh petani akibat kemarau panjang.
  • Blitar Selatan menjadi wilayah yang paling terdampak karena banyak lahan pertanian masih bergantung pada curah hujan.

Kabar Blitar – Ancaman berkurangnya pasokan komoditas hortikultura mulai dirasakan pada sejumlah pasar tradisional di wilayah Blitar Raya. 

Memasuki musim kemarau panjang, banyak petani di wilayah Kabupaten Blitar bagian selatan belum dapat melakukan penanaman cabai karena keterbatasan ketersediaan air.

Kondisi tersebut mulai berdampak pada ketersediaan stok di pasar dan memicu kenaikan harga cabai di tingkat konsumen.

Kepala Bidang Sarana Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Blitar, Siswoyo Adi Prasetyo, mengatakan penurunan pasokan terjadi karena sebagian besar tanaman cabai yang ditanam pada musim sebelumnya telah memasuki akhir masa panen.

“Sebagian besar tanaman cabai yang ditanam pada musim sebelumnya sudah memasuki akhir masa panen. Akibatnya, hasil yang masuk ke pasar mulai berkurang sehingga pasokan tidak sebanyak beberapa bulan lalu,” ujarnya, Selasa (16/6/2026).

Menurut Siswoyo, musim kemarau yang disertai suhu udara tinggi dan minimnya pasokan air menjadi tantangan bagi petani, terutama di wilayah Blitar selatan.

Sebagian besar lahan pertanian di kawasan tersebut masih berupa lahan tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan.

Akibat kondisi lahan yang kering, banyak petani memilih menunda penanaman baru hingga ketersediaan air kembali mencukupi. Situasi ini menyebabkan belum adanya tanaman pengganti yang dapat menjaga kontinuitas pasokan cabai ke pasar.

“Tertundanya musim tanam berpotensi memengaruhi ketersediaan cabai dalam beberapa bulan ke depan. Sebab, belum adanya tanaman pengganti membuat pasokan baru dari petani belum bisa masuk ke pasar dalam waktu dekat,” katanya.

Ia menjelaskan, tertundanya aktivitas tanam baru berpotensi membuat pasokan cabai tetap terbatas dalam beberapa bulan mendatang.

Dampaknya, harga cabai diperkirakan masih akan bertahan pada level tinggi karena ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan pasar.

Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), awal musim hujan di wilayah Jawa Timur bagian selatan diperkirakan baru terjadi pada November 2026.

Dengan kondisi tersebut, petani diperkirakan baru dapat memulai masa tanam setelah hujan kembali turun.

“Kemungkinan tanam baru bisa dilakukan setelah memasuki musim penghujan nanti. Artinya masih perlu waktu lagi sampai tanaman tersebut siap panen dan menambah pasokan ke pasar,” ungkap Siswoyo.

Pantauan di sejumlah pasar tradisional di Blitar menunjukkan harga cabai rawit saat ini berada di kisaran Rp60 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram. Harga tersebut mengalami kenaikan cukup signifikan dibandingkan kondisi normal beberapa waktu lalu.

DKPP Kabupaten Blitar berharap kondisi cuaca ke depan dapat mendukung aktivitas pertanian sehingga petani bisa kembali melakukan penanaman dan pasokan cabai ke pasar dapat kembali stabil.

#Cabai rawit Blitar #DKPP Kabupaten Blitar #Musim Kemarau Blitar

Komentar 0

Baca Juga