Dukung jurnalisme lokal, bebas iklan dan bebas berkomentar. Daftar Member
Kesehatan

Leptospirosis di Blitar Mematikan, 3 dari 6 Pasien Meninggal

Dinas Kesehatan Kabupaten Blitar mencatat enam kasus Leptospirosis dengan tiga kematian, sehingga tingkat fatalitas mencapai 50 persen dan menjadi perhatian serius di Blitar.

Leptospirosis di Blitar Mematikan, 3 dari 6 Pasien Meninggal
Genangan air sebagai media penularan leptospirosis

Poin Penting

  • Kasus leptospirosis di Blitar capai enam dengan tiga kematian.
  • Gejala awal mirip DBD sehingga sering terlambat ditangani.
  • Pencegahan dengan menjaga kebersihan dan gunakan pelindung saat di area berisiko.

Kabar Blitar – Kasus leptospirosis di Kabupaten Blitar menjadi perhatian serius setelah Dinas Kesehatan mencatat enam kasus dengan tiga di antaranya berujung kematian sehingga tingkat fatalitas tergolong tinggi.

Dinas Kesehatan menyebut Kabupaten Blitar menjadi salah satu daerah dengan tingkat kematian tinggi di Jawa Timur akibat penyakit leptospirosis.

”Kalau jumlah kasus, daerah lain juga ada. Tapi di Kabupaten Blitar ini proporsi meninggalnya cukup tinggi, 50 persen dari enam kasus, tiga orang meninggal,” ujar Kepala Dinkes Kabupaten Blitar, dr Christine Indrawati.

Ia menjelaskan tingginya angka kematian dipengaruhi rendahnya kewaspadaan masyarakat terhadap gejala awal penyakit yang kerap tidak dikenali.

Pada fase awal, gejala leptospirosis sulit dibedakan dengan penyakit lain seperti demam berdarah karena ditandai demam, nyeri otot, dan sakit kepala.

Bahkan hasil pemeriksaan awal dapat menunjukkan penurunan trombosit sehingga kerap disalahartikan sebagai gejala DBD.

“Gejala khas baru mulai terlihat pada hari kelima hingga ketujuh, yakni munculnya jaundice atau kondisi tubuh menguning. Pada fase ini, barulah diagnosis bisa lebih mengarah ke leptospirosis melalui pemeriksaan lanjutan,” ungkapnya.

Dinkes mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terutama bagi yang beraktivitas di lingkungan berisiko seperti sawah dan ladang.

Penggunaan alat pelindung diri seperti sepatu bot menjadi langkah pencegahan penting untuk menghindari penularan.

“Kami sarankan pekerja di sawah atau ladang menggunakan sepatu bot. Memang tidak nyaman, tapi itu jauh lebih aman untuk melindungi dari penularan,” tegasnya.

Christine menambahkan penularan leptospirosis umumnya berasal dari urine hewan terinfeksi, terutama tikus, yang mencemari lingkungan.

Hasil pemeriksaan di Kabupaten Blitar juga menemukan adanya bakteri leptospira pada tikus di sekitar lokasi kasus.

Karena itu, menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak langsung dengan air atau tanah yang berpotensi terkontaminasi menjadi langkah utama pencegahan.

Dinkes berharap masyarakat lebih waspada agar kasus leptospirosis tidak kembali menimbulkan korban jiwa di wilayah tersebut.

“Leptospirosis ini bukan dari gigitan tikus, tapi dari air kencingnya. Kami tidak tahu tikus kencing di mana. Kalau ada luka kecil di kaki, bakteri bisa masuk dan menjadi potensi penyakit,” pungkasnya.

#Leptospirosis Blitar #Pasien Leptospirosis Blitar

Komentar 0

Baca Juga