Dukung jurnalisme lokal, bebas iklan dan bebas berkomentar. Daftar Member
Feature

Limbah Celana Jeans Disulap Jadi Tas, Perajin Blitar Raup Cuan Jutaan

Ardhiana Malrasari, warga Kota Blitar, ubah limbah jeans bekas tambang jadi tas dan pouch bernilai ratusan ribu rupiah, omzet capai Rp7 juta.

Limbah Celana Jeans Disulap Jadi Tas, Perajin Blitar Raup Cuan Jutaan
Tas jeans buatan warga Kota Blitar. (KBRB)

Poin Penting

  • Ardhiana Malrasari olah celana jeans bekas pekerja tambang jadi tas, topi, pouch, dan tempat tisu.
  • Produk dipasarkan Rp150 ribu-Rp400 ribu, dengan omzet bulanan Rp3-7 juta dari sekitar 50 tas.
  • Produk juga dipadukan dengan batik ciprat karya penyandang disabilitas dan dipasarkan hingga ke luar negeri.

KBRB – Di tangan kreatif Ardhiana Malrasari, tumpukan celana jeans bekas pekerja tambang yang biasanya berakhir sebagai limbah justru berubah menjadi produk fesyen bernilai ekonomi tinggi.

Warga Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar itu sukses mengolah jeans bekas menjadi tas, topi, pouch, hingga tempat tisu dengan harga jual mencapai ratusan ribu rupiah.

Perempuan berusia 42 tahun tersebut mengaku usahanya berawal dari masa sulit saat pandemi Covid-19.

Sejak 2015, Ardhiana menjalankan usaha kerajinan tas berbahan kain impor. 

Namun ketika pandemi melanda, pasokan bahan baku tersendat sehingga ia harus mencari alternatif agar usahanya tetap berjalan.

"Saya sudah lama membuat tas dari kain impor. Waktu pandemi bahan bakunya sulit didapat, akhirnya saya berpikir harus mencari alternatif lain," kenangnya.

Inspirasi datang dari tumpukan celana jeans bekas milik suaminya yang bekerja di perusahaan tambang di Kalimantan.

Berawal dari coba-coba memanfaatkan kain tersebut, Ardhiana kemudian memadukannya dengan batik ciprat karya penyandang disabilitas.

Hasilnya ternyata mendapat respons positif dari pelanggan.

"Dari situ saya coba bongkar, saya buat pola, ternyata hasilnya bagus dan banyak yang suka," ujarnya.

Kini, limbah jeans tersebut diolah menjadi berbagai produk fesyen, mulai dari tas dengan beragam ukuran, topi, pouch, hingga tempat tisu.

Seluruh proses produksi dilakukan di rumahnya dengan dibantu dua orang pekerja.

Sebelum dijahit menjadi produk baru, setiap celana jeans harus melalui sejumlah tahapan.

Mulai dari dicuci ulang, dipilah berdasarkan gradasi warna, dibongkar jahitannya, kemudian dipotong mengikuti pola sebelum dirangkai menjadi produk siap pakai.

"Warnanya harus dipilih dulu supaya nanti perpaduannya bagus. Setelah itu baru dipotong dan dijahit sesuai desain," katanya.

Proses produksi yang cukup detail membuat setiap produk memiliki nilai jual tinggi.

Tas hasil karyanya dipasarkan dengan harga mulai Rp150 ribu hingga Rp400 ribu, bergantung pada ukuran dan tingkat kerumitan pengerjaan.

Dalam sebulan, Ardhiana mampu memproduksi sekitar 50 tas dengan omzet berkisar antara Rp3 juta hingga Rp7 juta.

Selain memperoleh keuntungan ekonomi, Ardhiana juga ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap limbah fesyen.

Menurutnya, barang bekas masih memiliki nilai guna apabila diolah dengan kreativitas dan inovasi.

"Limbah itu masih punya nilai. Tinggal bagaimana kita mengolahnya supaya bisa bermanfaat lagi," tuturnya.

Saat ini pemasaran produknya dilakukan melalui media sosial dan pesanan langsung dari konsumen.

Pembeli datang dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan sebagian produknya dibawa sebagai oleh-oleh ke luar negeri.

"Alhamdulillah banyak yang pesan dari luar kota. Ada juga yang dijadikan oleh-oleh ke luar negeri. Kami juga menerima pesanan sesuai keinginan pembeli," pungkasnya.

#Ardhiana Malrasari Blitar #Celana Jeans Bekas Blitar #Kota Blitar #Tas Jeans Blitar

Komentar 0

Baca Juga