Melegenda Sejak 1940-an, Soto Bok Ireng Blitar Bertahan dengan Resep Asli Turun-Temurun
Soto Bok Ireng Blitar jadi kuliner legendaris khas Kota Patria yang mempertahankan kelezatan cita rasa selama 80 tahun.
Poin Penting
- Soto Bok Ireng Blitar hampir berusia satu abad.
- Kelezatan Soto Bok Ireng didapatkan dari resep turun-temurun.
- Harga satu porsi Soto Bok Ireng hanya Rp 10.000.
Kabar Blitar – Kuliner legendaris ini berasal dari Bumi Bung Karno, Blitar. Bernama Soto Bok Ireng, sajian soto dengan isian daging dan jeroan sapi ini telah eksis sejak era 1940-an.
Keberadaannya bahkan disebut-sebut sudah ada sebelum Indonesia merdeka dan hingga kini tetap bertahan di tengah perubahan zaman.
Soto memang dikenal sebagai comfort food masyarakat Indonesia yang hadir dengan ragam ciri khas di setiap daerah.
Hangatnya kuah soto kerap menghadirkan rasa nyaman di mulut sekaligus membuat tubuh terasa lebih rileks.
Di Blitar, Soto Bok Ireng menjadi salah satu ikon kuliner yang terus diburu warga lokal maupun wisatawan, terutama sebagai menu sarapan hingga makan siang.
Keistimewaan Soto Bok Ireng tidak hanya terletak pada rasanya, tetapi juga pada konsistensi cita rasa yang dijaga selama kurang lebih 86 tahun secara turun-temurun.
Nama “Bok Ireng” sendiri bukan diambil dari nama pemilik, melainkan berasal dari jembatan berwarna hitam yang berada di dekat lokasi warung.
Dalam bahasa Jawa, “Bok” berarti jembatan dan “Ireng” berarti hitam. Jembatan tersebut menjadi penanda sekaligus identitas tempat soto legendaris ini dijajakan.
Pemilik Soto Bok Ireng saat ini, Kayatin, mengatakan usaha tersebut telah ada sejak tahun 1940-an dan awalnya dikelola oleh sang ibu.
Pada masa itu, soto dijual secara kaki lima dengan cara dipikul menggunakan gentong. Hingga kini, tradisi tersebut tetap dipertahankan sebagai bagian dari keaslian warung.
“Saya sudah berjualan selama 44 tahun sejak meneruskan usaha ibu saya dan sekarang usia saya sudah 81 tahun,” ungkap Kayatin.
Warung Soto Bok Ireng juga dikenal dengan slogan “Yang Lama”. Saat ditanya apakah ada cabang atau versi baru, Kayatin menegaskan tidak ada gerai lain.
Penegasan ini dilakukan agar pembeli tidak terkecoh dengan warung soto serupa yang mengatasnamakan Soto Bok Ireng.
Seluruh resep, bumbu, dan bahan pelengkap yang digunakan tetap sama seperti sejak pertama kali diracik oleh ibunya.
Proses memasak pun masih menggunakan peralatan lama, mulai dari gentong kuah, bakul nasi, hingga pikulan.
Meski bambu penyangga pikulan sudah beberapa kali diganti karena usia, bagian lainnya tetap dipertahankan.
Kuah soto dijaga tetap hangat menggunakan kayu bakar dan bara api. Gentong berukuran besar diletakkan miring untuk memudahkan penyajian.
Kayatin yang setiap hari duduk di dekat bara api mengaku sudah terbiasa dengan panas sejak puluhan tahun lalu.
“Bumbunya dan semua sesuai dengan yang ibu saya pakai, Resepnya turun temurun dan tidak diganti-ganti,” terang Kayatin.
Dengan harga Rp 10.000 per porsi, Soto Bok Ireng tergolong sangat terjangkau untuk kuliner legendaris yang telah melewati tiga generasi. Tak heran jika warung ini selalu ramai pembeli, terutama pada pagi hari.
Komentar 0
Masuk untuk ikut berkomentar.