Produksi Padi Kota Blitar Meningkat di 2025
Kondisi cuaca sepanjang 2025 dianggap mendukung dalam meningkatkan produktivitas pertanian di Kota Blitar.
Poin Penting
- Produksi padi di Kota Blitar meningkat.
- produksi meningkat menjadi 6.060,88 ton gabah kering giling.
- Cuaca sepanjang 2025 dianggap mendukung sektor pertanian.
Kabar Blitar – Kondisi cuaca yang cenderung lebih basah sepanjang 2025 memberikan pengaruh positif terhadap kinerja sektor pertanian di Kota Blitar.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Blitar mencatat adanya kenaikan signifikan baik pada luas panen maupun produksi padi dibandingkan capaian tahun sebelumnya.
Kepala BPS Kota Blitar, Hanung Pramusito, menjelaskan bahwa pola cuaca sepanjang 2025 relatif lebih mendukung aktivitas pertanian.
Ia membandingkan kondisi tersebut dengan situasi pada 2024, ketika sejumlah wilayah sempat mengalami kekeringan.
Pada 2025, curah hujan yang cukup membuat lahan sawah dapat dimanfaatkan secara optimal, bahkan memungkinkan petani menanam padi hingga dua kali dalam satu tahun.
“Definisi luas panen adalah luasan lahan yang dipanen padi dalam kurun waktu satu tahun. Di 2025, cuaca cenderung basah sehingga di beberapa hamparan lahan yang sama bisa ditanami dan dipanen dua kali,” ujar Hanung, Selasa (13/1/2026).
Berdasarkan data BPS Kota Blitar, luas panen padi pada 2024 tercatat mencapai 574,04 hektare. Angka tersebut meningkat tajam pada 2025 menjadi 835,36 hektare.
Dengan demikian, terjadi kenaikan sekitar 45,61 persen atau setara dengan penambahan luas panen sebesar 261,82 hektare dalam satu tahun.
Peningkatan luas panen tersebut berbanding lurus dengan lonjakan produksi padi. Pada 2024, produksi padi di Kota Blitar tercatat sebesar 3.722,17 ton.
Sementara pada 2025, produksi meningkat menjadi 6.060,88 ton gabah kering giling (GKG), yang setara dengan sekitar 3.499 ton beras.
Secara persentase, produksi beras pada 2025 mengalami kenaikan hingga 62,83 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Hanung mengibaratkan fenomena tersebut dengan perbandingan antara luas tanah dan luas bangunan.
Dalam satu bidang tanah, luas bangunan dapat lebih besar karena bertingkat. Menurutnya, prinsip serupa juga terjadi pada sektor pertanian, khususnya pada perhitungan luas tanam dan luas panen.
“Dalam satu hamparan sawah, luas tanam bisa lebih besar dari luas lahannya, karena dalam satu tahun bisa ditanami dua kali. Ini umumnya dipengaruhi cuaca dan jenis bibit padi yang digunakan,” terangnya.
Komentar 0
Masuk untuk ikut berkomentar.