Psikolog Ungkap Faktor Menantu Bunuh Mertua di Blitar
Bukan hanya karena faktor kestabilan emosi, psikolog nilai kasus menantu bunuh mertua di Blitar dipengaruhi oleh sejumlah faktor.
Poin Penting
- Psikolog ungkap banyak faktor pengaruh di balik kasus menantu bunuh mertua.
- Regulasi emosi usia muda dinilai masih belum stabil.
- Kondisi diperparah dengan cekcok yang sering terjadi antara menantu dan mertua.
Kabar Blitar – Kasus pembunuhan yang melibatkan menantu perempuan terhadap mertuanya di Desa Gandekan, Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar, terus menjadi perhatian publik.
Peristiwa tragis ini tidak hanya dipandang dari sisi hukum, tetapi juga dikaji dari sudut pandang psikologis untuk memahami faktor pemicu di balik tindakan kekerasan tersebut.
Dari analisis psikologis, peristiwa ini dinilai merupakan akumulasi dari konflik rumah tangga yang berlangsung lama, tekanan ekonomi, serta kegagalan pelaku dalam mengelola emosi.
Psikolog RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, Yeni Rofiqoh, menyebut kondisi psikis seseorang sangat berpengaruh terhadap munculnya perilaku anarkis, terlebih dalam situasi penuh tekanan.
Dalam kasus ini, usia tersangka yang masih sangat muda menjadi salah satu faktor yang disorot. “Usia tersangka masih 21 tahun, sementara korban berusia sekitar 70 tahun," ujarnya.
"Regulasi emosi pada usia muda memang belum stabil, apalagi jika didukung kondisi ekonomi dan sosial yang tidak menguntungkan,” imbuh Yeni.
Ketimpangan usia tersebut dinilai turut memengaruhi cara pelaku merespons konflik yang dihadapi. Selain faktor usia, tekanan ekonomi juga kerap memicu persoalan dalam relasi keluarga, termasuk hubungan antara mertua dan menantu.
Kondisi ini semakin diperparah apabila sejak awal hubungan keduanya sudah tidak harmonis. Dalam situasi seperti itu, konflik kecil yang berulang dapat berkembang menjadi masalah besar.
Yeni juga menyinggung latar belakang pendidikan serta perbedaan budaya yang berpotensi memperkeruh hubungan.
Diketahui, tersangka bukan berasal dari Jawa Timur, sehingga terdapat perbedaan cara berkomunikasi, bersikap, serta memaknai penghormatan terhadap orang yang lebih tua. Perbedaan tersebut, jika tidak dikelola dengan baik, dapat memicu kesalahpahaman.
“Perbedaan latar belakang daerah itu penting. Cara bicara, cara menyampaikan pendapat, hingga nilai menghormati orang tua bisa berbeda," terangnya.
Jika tidak ada penyesuaian, konflik mudah terjadi. Kalau melihat dari pemberitaan, sudah ada cekcok dan konflik yang tidak pernah benar-benar selesai. "Hal-hal kecil dalam keseharian yang terus berulang, akhirnya memicu ledakan emosi,” ungkapnya.
Menurut Yeni, konflik antara mertua dan menantu sebenarnya merupakan hal yang cukup lazim dalam kehidupan rumah tangga.
Keduanya sama-sama berada dalam fase penyesuaian dengan latar belakang yang berbeda. Namun, konflik menjadi berbahaya ketika tidak disertai dengan komunikasi dan saling pengertian.
Ia menambahkan, perbedaan pola pikir antar generasi juga kerap memicu gesekan. Orang tua sering merasa harus selalu dituruti, sementara generasi muda memiliki cara pandang dan keberanian menyampaikan pendapat secara lebih terbuka.
Tanpa adanya kesepahaman, konflik semacam ini cenderung terus berulang. Dalam konteks tersebut, peran suami dinilai sangat penting sebagai jembatan komunikasi antara istri dan keluarga besarnya.
Suami diharapkan mampu memberi pengertian kepada kedua belah pihak terkait perbedaan yang ada. “Jika suami hanya menjadi penonton, konflik bisa berkepanjangan,” tegasnya.
Menurut Yeni, suami seharusnya dapat menetapkan batasan yang jelas, baik kepada istri maupun kepada orang tua, agar perbedaan tidak dimaknai sebagai bentuk perlawanan.
"Jika sejak awal tidak ada upaya penyesuaian dan komunikasi, konflik seperti ini bisa berujung fatal,” pungkasnya.
Komentar 0
Masuk untuk ikut berkomentar.