Dukung jurnalisme lokal, bebas iklan dan bebas berkomentar. Daftar Member
Kesehatan

Sejumlah 30 Ibu Hamil dengan Risiko Tinggi, Dinkes Blitar Lakukan Pantau Ketat

Dinkes Kota Blitar pantau ketat 30 ibu hamil risiko sangat tinggi dari total 456 ibu hamil, sediakan ANC terpadu dan skrining layak hamil calon pengantin.

Sejumlah 30 Ibu Hamil dengan Risiko Tinggi, Dinkes Blitar Lakukan Pantau Ketat
Ilustrasi ibu hamil. (KBRB)

Poin Penting

  • Dinkes Kota Blitar catat 30 dari 456 ibu hamil masuk kategori risiko sangat tinggi, mendapat pemantauan intensif hingga setiap hari.
  • Risiko tinggi kehamilan tak hanya soal usia, tapi juga penyakit penyerta seperti hipertensi dan gangguan jantung yang kadang baru terdeteksi di rumah sakit.
  • Sepanjang Januari-Agustus 2026 tercatat satu kasus kematian ibu dalam kategori risiko tinggi; Dinkes perkuat edukasi lewat ANC terpadu dan skrining calon pengantin.

KBRB – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Blitar memperketat pemantauan terhadap ibu hamil yang masuk kategori risiko sangat tinggi.

Hingga awal Agustus 2026, tercatat 30 ibu hamil dalam kategori tersebut dan mendapatkan pengawasan lebih intensif dari petugas kesehatan.

Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Kota Blitar, Endang Purwoko, mengatakan saat ini terdapat 456 ibu yang masih menjalani kehamilan.

Dari jumlah tersebut, sekitar 100 ibu masuk kategori risiko tinggi dan 30 lainnya tergolong risiko sangat tinggi.

"Yang keadaan hamil hingga saat ini tercatat ada 456 orang. Yang masuk kategori risiko tinggi sekitar 100 ibu hamil. Selain itu, ada 30 ibu hamil yang terdeteksi risiko sangat tinggi," ujar Endang, Minggu (16/8/2026).

Risiko kehamilan, menurut Endang, tidak hanya ditentukan berdasarkan usia ibu.

Penyakit penyerta seperti hipertensi dan gangguan jantung juga dapat membuat kehamilan masuk kategori risiko tinggi.

Kondisi tersebut bahkan terkadang baru diketahui setelah ibu hamil menjalani pemeriksaan di fasilitas kesehatan — tekanan darah yang sebelumnya normal, misalnya, dapat meningkat ketika ibu berada di rumah sakit karena faktor kecemasan atau stres.

"Dikatakan masuk risiko tinggi itu karena ada penyakit penyerta seperti jantung dan hipertensi. Bahkan, ada kalanya penyakit itu baru terdeteksi setelah ibu masuk rumah sakit," jelasnya.

Ibu hamil yang masuk kategori risiko sangat tinggi mendapatkan pemantauan secara lebih intensif.

Informasi mengenai kondisi mereka dilaporkan secara berjenjang mulai dari kader posyandu kepada bidan wilayah.

Dalam kondisi tertentu, pemantauan bahkan dilakukan setiap hari untuk memastikan kondisi ibu dan janin tetap terpantau.

"Yang terdeteksi risiko sangat tinggi akan dipantau secara intensif, bahkan setiap hari, dengan laporan kader posyandu kepada bidan wilayah," kata Endang.

Berdasarkan data Dinkes Kota Blitar, sepanjang Januari hingga awal Agustus 2026 tercatat 735 ibu hamil.

Sekitar 300 di antaranya telah menjalani persalinan.

Sementara dari ibu yang masih menjalani kehamilan, sebanyak 326 orang masuk kategori risiko rendah.

Upaya pencegahan juga dilakukan lewat layanan Ante Natal Care (ANC) terpadu di puskesmas.

Pemeriksaan melibatkan dokter untuk mendeteksi potensi kelainan sejak dini sehingga proses rujukan ke rumah sakit dapat segera dilakukan apabila diperlukan.

Dinkes juga menyediakan skrining layak hamil bagi calon pengantin untuk mengetahui kondisi kesehatan, usia ideal kehamilan, hingga pemenuhan kebutuhan nutrisi.

Langkah tersebut diharapkan dapat menekan berbagai risiko selama kehamilan, termasuk Kurang Energi Kronis (KEK).

Endang menambahkan, sepanjang Januari hingga awal Agustus 2026 terdapat satu kasus kematian ibu. Kasus tersebut termasuk dalam kategori risiko tinggi.

"Imbauan kami kepada masyarakat, mari selalu jaga kondisi kehamilan dan kesehatan ibu. Kami di puskesmas terus berupaya memberikan KIE, meski pada akhirnya keputusan tetap berada di tangan masyarakat," pungkasnya.

#Dinkes Kota Blitar #Ibu Hamil

Komentar 0

Baca Juga