Dukung jurnalisme lokal, bebas iklan dan bebas berkomentar. Daftar Member
Feature

Wayang Kulit sebagai Jalan Dakwah, Cara Unik Ki Nanang Wisanggeni Menyapa Jamaah Desa

Dakwah kreatif ditampilkan Kiai Nanang Wisanggeni dalam Safari Ramadan di pelosok Kabupaten Blitar dengan memadukan ceramah Islam dan seni wayang kulit. Metode ini menghadirkan pengajian yang lebih hidup, membumi, dan mudah diterima jamaah lintas usia melalui pendekatan budaya Jawa.

Wayang Kulit sebagai Jalan Dakwah, Cara Unik Ki Nanang Wisanggeni Menyapa Jamaah Desa
Dakwah Wayang Kulit Ala Ki Nanang Wisanggeni.

Poin Penting

  • Ki Nanang Wisanggeni punya cara unik untuk mendakwahkan ajaran Islam.
  • Dakwah wayang kulit digunakan sebagai metode pendekatan pada masyarakat.
  • Metode dakwah mirip penampilan wayang kulit khas Sunan Kalijaga.

Kabar Blitar – Di sebuah musala sederhana di pelosok Kabupaten Blitar, suasana pengajian Ramadan malam itu terasa berbeda. 

Bukan hanya lantunan ayat suci dan tausiyah yang mengalun, tetapi juga bayang-bayang wayang kulit yang menari di balik kelir. 

Di sinilah seorang kiai muda memilih jalan dakwah yang tak biasa—memadukan nilai-nilai Islam dengan seni tradisional Jawa.

Pengajian Safari Ramadan yang digelar oleh Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Cabang Kabupaten Blitar di Mushalah Nida’ul Khoir, Desa Wates, Kecamatan Wates, menjadi panggung dakwah kreatif tersebut. 

Jamaah yang hadir tak sekadar duduk menyimak ceramah, tetapi juga larut dalam alur cerita wayang kulit yang dimainkan langsung oleh sang penceramah.

Adalah Kiai Nanang Masrukhi, atau yang lebih dikenal dengan nama Ki Nanang Wisanggeni, sosok di balik metode dakwah unik ini. 

Di hadapan jamaah, ia tampil bukan hanya sebagai penceramah, tetapi juga sebagai dalang. Tangannya luwes menggerakkan wayang, sementara suaranya mengalirkan pesan-pesan Ramadan dengan bahasa yang membumi.

Bagi Ki Nanang, wayang bukan sekadar seni pertunjukan. Ia adalah media dakwah yang sarat makna dan dekat dengan kultur masyarakat Jawa. 

Ketertarikannya pada wayang tumbuh sejak masa mondok di pesantren. Dari sana, ia mulai mengenal karakter tokoh-tokoh pewayangan beserta filosofi yang terkandung di dalamnya.

“Saya punya inisiatif menggunakan media wayang. Sejak di pesantren memang suka wayang, lalu mencoba memahami karakteristik budaya wayang,” ujarnya.

Ketertarikan itu tidak berhenti sebagai hobi. Ki Nanang melihat potensi besar wayang sebagai sarana penyampaian pesan keagamaan. Apalagi, ia memiliki latar belakang sebagai guru. 

Pengalaman mengajar membuatnya terbiasa menggunakan berbagai media pembelajaran agar materi mudah dipahami oleh siswa dengan karakter yang beragam.

“Karena saya pernah mengajar dan terbiasa menggunakan media pembelajaran, akhirnya saya terapkan juga dalam dakwah,” tuturnya.

Dalam setiap pementasan singkatnya, Ki Nanang memilih tokoh-tokoh wayang yang akrab di telinga masyarakat. 

Cerita yang disampaikan pun tidak melayang jauh dari kehidupan sehari-hari. Persoalan tentang kesabaran menghadapi cobaan, keikhlasan dalam beribadah, hingga pentingnya menjaga silaturahmi, dirangkai dengan nilai-nilai puasa Ramadan.

Tokoh wayang digambarkan menghadapi konflik, tergelincir oleh hawa nafsu, lalu perlahan menemukan jalan kembali menuju kebaikan. 

Dari situlah pesan moral disisipkan, tanpa kesan menggurui. Jamaah diajak merenung melalui cerita, bukan sekadar mendengar nasihat.

“Wayang ini saya ambil sebagai metode karena merupakan budaya kita sebagai orang Jawa,” imbuhnya.

Pendekatan tersebut terbukti efektif. Jamaah tampak antusias mengikuti jalannya pengajian. Senyum dan tawa sesekali pecah ketika dialog wayang diselipi guyonan khas Jawa. 

Anak-anak yang biasanya mudah bosan saat pengajian, justru tampak betah duduk di barisan depan, menanti kelanjutan cerita.

Bagi para orang tua, metode ini menghadirkan suasana pengajian yang lebih hidup. Ceramah tidak terasa panjang atau berat, karena pesan-pesan agama disampaikan melalui alur cerita yang akrab dan mudah dicerna.

Di tengah tantangan dakwah di era modern, apa yang dilakukan Ki Nanang menjadi contoh bagaimana kearifan lokal dapat dirawat sekaligus dimanfaatkan sebagai sarana syiar Islam. Tanpa menanggalkan nilai-nilai ajaran, dakwah justru menjadi lebih dekat dengan masyarakat.

Melalui bayang-bayang wayang kulit di bulan suci, Ki Nanang Wisanggeni menunjukkan bahwa dakwah tidak harus selalu berada di mimbar dengan gaya formal. 

Ketika agama dan budaya berjalan beriringan, pesan kebaikan dapat sampai ke hati dengan cara yang lebih lembut dan berkesan. 

Pendekatan ini diharapkan mampu menginspirasi para dai untuk terus berkreasi, agar dakwah tetap relevan, membumi, dan diterima lintas generasi.

#Dakwah Wayang Kulit Blitar #Ki Nanang Wisanggeni

Komentar 0

Baca Juga